Sabtu, 28 November 2009

Joseph Samuel Gerard: Dari Hina Jadi Mulia

Masa lalu yang suram tidak boleh memerintah jalan hidup masa kini. Berdamai dengan masa lalu, membebaskan kita menggapai bintang. Bintang yang cahayanya tak kenal redup.

Kalau boleh memilih, setiap orang akan memilih lahir di tengah keluarga kaya. Keluarga yang mampu. Keluarga yang damai. Keluarga yang saling mengasihi. Keluarga yang bebas dari Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). Dan, berbagai hal menyenangkan lainnya. Tetapi faktanya tidak demikian. Tidak ada seorang pun bayi yang dapat memilih dilahirkan di keluarga yang ia tentukan sendiri. Ia dilahirkan begitu saja, tanpa memberinya peluang untuk memilih.

MISKIN & TAK BERPENDIDIKAN
Joseph Samuel Gerard yang lebih dikenal dengan nama Joe Girard juga demikian. Ia dilahirkan di tengah keluarga yang amat miskin dan tak berpendidikan. Di sebuah daerah kumuh, di Detroit, Michigan, Amerika Serikat, pada 1 November 1928, Joe dilahirkan. Kondisi keluarganya sangat memprihatinkan. Ayahnya seorang mafia kelas teri. Ia berulangkali di tangkap polisi karena tindakan kriminal. Ia mencuri, mabuk-mabukan dan doyan ganja.

Perangai buruk sang ayah terbawa hingga Joe masuk Sekolah Dasar (SD). Figur ayah yang identik sebagai pelindung, ternyata berubah menjadi sosok yang menyeramkan dan menakutkan. Ia tidak melindungi, tetapi sebaliknya. Ia melakukan kekerasan terhadap anak yang seharusnya ia kasihi. Ia memukul Joe. Ia belum puas jika tubuh mungil itu tidak sampai lebam-lebam. Bahkan kata-kata kotor dan tidak membangun keluar dari ayah yang tidak bertanggungjawab itu. Tanpa alasan jelas, ayah tersebut selalu saja berkata, Joe anak yang tidak becus. Anak pembawa sial. Anak yang tidak akan beruntung dalam hidupnya. Sebuah pernyataan yang seharusnya tidak perlu terucap. Mestinya, kata-kata memberkati itulah yang diucapkan. Namun, ayah Joe tidak pernah melakukan itu. Kata-kata melukai dan sarat hujatan menembus begitu dalam di hati Joe yang tak bersalah itu. Dalam pikirannya sebagai anak, ia hanya mampu bertanya, apa salahnya sehingga harus dihajar setiap hari.

Syukurlah Joe punya ibu yang selalu membalut luka hatinya. Sang ibu senantiasa membesarkan hati anaknya yang selalu dilukai. Hati sang ibu tahu bahwa luka yang dalam membekas di hati anaknya. Namun, sebagai wanita yang tidak berdaya, ia hanya bisa menasihati dan berusaha memberi citra positif. Ia selalu berkata bahwa Joe pasti berhasil dalam hidupnya. Ia menjadi anak yang berguna. Ia akan terkenal dan berdampak bagi sesama. Bukan seperti yang dikatakan ayahnya. Namun, nasihat ibunya tidak sebanding dengan kata-kata negatif yang terus diucapkan ayahnya. Perkataan itu tertancap kuat dalam ingatannya. Mungkin ada benarnya pendapat psikolog bahwa anak yang berusia di bawah 12 tahun daya ingatnya sangat kuat. Ia dapat mengingat dengan tepat apa saja yang pernah diklaim orang tentang dirinya.

HIDUP KACAU
Konsep diri yang tidak jelas membuat hidupnya kacau. Joe merasa ia bagaikan sampah busuk yang tak berguna. Perkataan ayahnya terngiang sangat jelas. Wajah seram penuh hujatan masih terlukis di benaknya. Dunia rasanya runtuh. Karena itu, dalam menjalankan pendidikan ia tidak serius. Akibatnya, Sekolah Menengah Pertama (SMP) tidak diselesaikannya. Baginya, menamatkan pendidikan pada jenjang pendidikan tertentu tidak bermanfaat.

Walau tidak berhasil menyelesaikan pendidikan, ia berusaha mencari pekerjaan. Lagi-lagi, pengalaman kelam masa silam memengaruhi hidupnya kini. Ia berulang kali dipecat dari pekerjaan karena karakter jeleknya. Segala sesuatu yang negatif dengan mudah ditemui. Tidak perlu observasi rumit untuk menemukan karakter buruk dalam diri Joe.
Bertahan hidup saja mustahil. Pendidikan tidak punya, miskin lagi. Apalagi yang dapat diandalkan? Pupus sudah! Madesu, alias masa depan suram pantas dikenakan kepadanya. Lha, itu faktanya kok.

UTANG $ 10
Penderitaan demi penderitaan enggan meninggalkan Joe. Suatu kali, istrinya sangat kesal. Orang yang ia cintai itu mengalami frustrasi. Hari itu, api di dapur tidak bisa mengepul. Di rumah tidak ada apa-apa. Tidak ada sesuatu yang dapat dimakan. Istri dan kedua anaknya akan segera meninggal jika hari itu tidak diberi makan. Frustrasi bercampur tanggung jawab sebagai kepala keluarga, mendorongnya untuk berutang $ 10 agar dapat membeli makanan hari itu.

Dengan sempoyongan ia mengayunkan langkah keluar rumah. Ia sempoyongan bukan karena baru minum alkohol. Melainkan, pikirannya buntu. Tidak tahu harus berbuat apa. Ia menengok dirinya, tetapi tidak punya hal yang ia banggakan untuk ditawarkan saat melamar pekerjaan. Namun, dengan perasaan campur aduk itu, ia mulai melangkah ke showroom mobil Chevrolet. Ia dipandang sebelah mata. Ia tidak diperhitungkan. Ia dianggap sebagai orang yang tidak bisa berbuat apa-apa. Namun, dari showroom mobil Chevrolet ini, Joe mengukir sejarah baru. Sejarah yang menggemparkan dunia wiraniaga.

PRESTASI MENAKJUBKAN
Bagai sarang laba-laba yang telah dirusak. Joe berjuang merajut kembali satu demi satu. Ia sadar sarang itu telah rusak. Itulah fakta. Namun, ia tidak mau berlama-lama tinggal dan terus memikirkan sarang yang rusak. Yang penting baginya merajut kembali sarang yang rusak tersebut.

Hasil rajutannya kini terlihat. Semboyan pantang menyerah melekat erat dalam relung batinnya. Ia sadar akan kelemahan-kelemahannya. Namun, ia juga tahu bahwa kelemahan adalah titik awal kekuatan.

Joe berdamai dengan pengalaman pahit masa lalu. Ia kini memulai lembaran baru. Lembaran yang bebas dari cengkeraman masa silam. Ia memiliki semangat baja. Semangat itu menghantarnya menggapai impian. Impian bukan sembarang impian. Impian yang akhirnya menjadi kenyataan.

Kini Joe yang dianggap tidak punya modal telah berubah menjadi seorang yang menginspirasi hidup banyak orang di berbagai belahan dunia. Dunia wiraniaga mengakuinya sebagai WorldÅ› Greatest Salesman menurut The Guinness Book of World RecordÅ›. Namanya diabadikan dalam buku rekor dunia. Sebuah prestasi spektakuler yang berhasil ditorehkan oleh seseorang yang tanpa gelar.

Prestasinya pun tidak tanggung-tanggung. Kurun waktu 1963-1978, ia berhasil menjual mobil sejumlah 13.001. Rata-rata penjualan perhari enam mobil. Bahkan ia menjual 1425 mobil baru per tahun. Ia melakukannya sendirian. Prestasinya itu, kurang lebih setara dengan dealer mobil top di Indonesia dengan dukungan sekitar 30-an orang karyawan. Menakjubkan. Resep keberhasilannya tidak neko-neko. Just do it, itu modal utama yang dibagikannya kepada peserta seminar di Hilton Hotel Jakarta Oktober 1992.

Gelar akademis tidak bertengger di belakang namanya. Namun, para akademisi mengakui kemampuannya. Ia diundang untuk memberi seminar dan mengajar di Universitas. Banyak orang bersaksi, mereka selalu mendapatkan sesuatu yang baru dari apa yang disampaikannya. Ia menulis beberapa buku. How to Sell Anything to Anybody (1977); How to Sell Your Self; How to Close Every Sale dan Mastering your Way to the Top adalah karya tulis Joe yang menginspirasi hidup banyak orang.

Joe berhasil melewati masa-masa suram. Tabah, semangat, pantang menyerah dan iman yang teguh membuatnya bangkit dari keterpurukan di titik minus. Sebuah titik paling bawah dari krisis kehidupan. Titik yang membuat sebagian orang terhempas. Namun, Joseph Samuel Gerard justru memaknai krisis dengan cara berbeda. Ibarat pohon yang terus diterpa angin puting beliung. Akarnya justru kuat. Merambat lebih dalam hingga tak tergoyahkan.

0 komentar:

Template by : boedy cre@tion